Padukuhan Diro terletak di Kalurahan Sendangmulyo, Kapanewon Minggir, Sleman. Menurut Dukuh Diro, Stefanos Sunarto (59 tahun) konon, Padukuhan Diro adalah sebuah ‘Kerajaan Mandiro’ namanya. Salah satu bukti dulu pernah ada kerajaan dengan ditemukan satu guci berisi emas di tanah milik Nopawiro puluhan tahun lalu. Guci berisi emas itu diserahkan kepada pemerintah pada waktu itu.

Pada saat warga membuat saluran air dekat Sendang Beji pernah ditemukan badong emas dan perunggu berupa topeng pada tahun 1937. Hasil penemuan tersebut pun diserahkan kepada pemerintah pada waktu itu. Itu semua merupakan bukti bahwa di Diro pernah ada ‘Kerajaan Mandiro’ sekitar tahun 1450.

Situs Sendang Beji

Padukuhan Diro mempunyai Sendang Beji yang berada di bawah pohon beringin besar. Valentinus Sumardi (82 tahun), sesepuh warga Diro, menyampaikan bahwa air Sendang Beji diyakini bisa untuk penyembuhan, awet muda, dan menjadikan pria makin tampan serta wanita makin cantik.

Keberadaan Sendang Beji di Padukuhan Diro terkait erat dengan keberadaan Petilasan Ki Ageng Tunggul Wulung.

Ki Ageng Tunggul Wulung adalah keturunan dari Prabu Brawijaya V pengawal Raden Bondan Kejawan. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, keduanya melarikan diri dari Majapahit hingga wilayah ini. Pelariannya dari Majapahit itu sempat mendirikan pesanggrahan di wilayah Diro. Pusat dari istana kecil itu berada di sekitar Sendang Beji Diro. Berdasarkan hal itu, maka di sekitar Sendang Beji Diro ditemukan beberapa arca dan puing batuan seperti batuan yang membentuk struktur candi. Arca Ganesha di bawah pohon beringin di sisi Sendang Beji Diro mungkin merupakan bagian dari sebaran batuan atau artefak tersebut.

Tak jauh dari Sendang Beji terdapat cungkup yang disertai semacam batu nisan. Diduga, cungkup itu adalah makam dari seorang ronggeng. Ada juga yang mengatakan bahwa cungkup itu dulu merupakan tempat singgah Ki Ageng Tunggul Wulung. Pada zaman dulu di dekat cungkup ada arca sapi gumarang, ‘sapi seluntur’ dalam Bahasa Jawa. Arca tersebut dibawa ke Dinas Purbakala.

Sendang Gunung Kinjeng

Sendang Gunung Kinjeng terletak di Gunung Blimbingan, ini juga bagian dari Padukuhan Diro. Dulu ketika ada orang mempunyai hajad menikahkan anaknya, melakukan sesaji atau ‘mbebuwang’ di perempatan jalan dan di Sendang Gunung Kinjeng. Hal ini dilakukan agar hajadan bisa berjalan lancar, aman, dan selamat.

Di Sendang Gunung Kinjeng, juga terdapat cerita lisan yang berkembang. Konon, pada zaman dahulu, ada sekelompok anak yang sedang menggembala di tempat ini. Seorang anak bermain ayunan pada dua pohon putat di dekat sungai. Anak yang sedang ayunan tersebut diayun dengan kencang oleh teman- temannya. Tiba tiba anak tersebut hilang entah kemana. Anak tersebut diduga “Den Bagus Jawal” yang merupakan keturunan Majapahit.

Mbah So Iyono Juru Kunci Sendang Gunung Kinjeng menduga bahwa anak tersebut merupakan “pepundhen” Sendang Gunung Kinjeng. Di sekitar Sendang itu juga sering terdapat burung Puter Lumut yang menyerupai ‘gemak’ atau burung puyuh. Burung Puter Lumut tersebut tidak selalu menampakkan diri, ketika muncul warga juga sering mendengar kicauan merdu dari burung tersebut. Selain suara burung, di Sendang Gunung Kinjeng ini juga sering terdengar suara gamelan dan sindhen. Hal tersebut membuat para pelaku seni sering ‘lelaku’ di sini ketika mau mengadakan pentas atau pertunjukan seperti, memandikan jaran jathilan, incling, dan akan mengadakan pergelaran wayang. Hal tersebut dilakukan agar pada saat pentas suara gamelan bisa terdengar merdu, pementasannya bagus dan lancar tidak ada gangguan apa pun.

Lasinem (53 tahun) warga Diro menambahkan dahulu diceriterakan, dahulu ada orang ‘lelaku dan menjawab’ pepundhen di Sendang Gunung Kinjeng tersebut untuk meminjam gamelan dan peralatan lainnya secara lengkap, hal itu pun terjadi. Gamelan dan perlengkapannya bisa muncul dengan wujud nyata. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang juga sering mengadakan ‘lelaku’ di situ untuk meminjam gamelan tersebut ketika akan melakukan pentas seni. Pada suatu ketika ada seorang yang meminjam peralatan dengan lengkap, tetapi ada satu peralatan yang tidak dikembalikan, bahkan digadaikan. Sejak kejadian itu gamelan dan perangkatnya tidak bisa muncul dalam bentuk nyata. Orang-orang tidak bisa meminjam gamelan milik Sendang Gunung Kinjeng.

Banyak orang berziarah dan memohon di Sendang Gunung Kinjeng ini. Orang yang akan punya hajad menikahkan anaknya, minta doa restu di Sendang Gunung Kinjeng agar selamat dan terhindar dari gangguan.

 

Pembuat Artikel: Marciana Sarwi, M.Pd
Tenaga Ahli Penulis: Sutopo Sugihartono
Foto: Marciana Sarwi, M.Pd