Penduduk di sekitar tempat ini menyebut dengan Gunung Blimbingan. Jika menyebut kata “gunung” pasti orang akan berpikir bahwa tempat ini adalah sebuah gunung yang tinggi. Tidak sesuai dengan namanya, Gunung Blimbingan hanyalah gundukan tanah yang lebih tinggi dibanding wilayah yang lainnya. Disebut dengan nama bukit saja belum pas karena ukurannya belum memenuhi syarat sebagai bukit. Gunung ini terletak di ujung Dusun Blimbingan yang masuk dalam wilayah Desa Sendangmulyo Kecamatan Minggir.
Konon ditempat ini ditunggui oleh kyai yang akan semasa hidupnya mempunyai seperangkat gamelan Jawa. Menurut cerita yang dituturkan secara turun-temurun, secara gaib gamelan tersbut hilang bersama dengan sang empunya. Yang menjadi keanehan, warga yang akan meminjam gamelan dapat meminta izin kepada roh dengan melakukan ritual yang dilengkapi sajian. Ajaibnya gamelan sudah berada di rumah orang yang meminjam tanpa harus mengangkatnya. Hanya saja si peminjam harus menempatkan dan memperlakukan gamelan secara khusus. Sebelum gamelan dibunyikan harus dibungkus dengan kain putih untuk menjaga kesakralan.
Suatu saat ada warga yang meminjam seperangkat gamelan. Kisah yang berkembang, warga tersebut tidak mengembalikan salah satu gamelan yaitu gong. Secara mengejutkan gong yang dijual mengilang dan orang-orang percaya bahwa gong tersebut kembali kepada sang pemilik. Mulai saat itu, roh yang menunggu Gunung Blimbingan tidak berkenan untuk meminjamkan gamelan yang menjadi kesayangannya. Begitulah kisah misteri yang lambat laun sudah tidak dikenali oleh anak-anak generasi zaman sekarang.