SEJARAH MONUMEN WIRANARA
KWAYUHAN SENDANGMULYO MINGGIR SLEMAN YOGYAKARTA
PENDAHULUAN
Bahwa pada Agresi Belanda II tahun 1948/1949 Dusun Kwayuhan, Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman telah mengukir sejarah perjuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Karena pada itu rakyat bersama-sama dengan Polisi berjuang untuk melawan Belanda yang ingin menjajah kembali Bangsa Indonesia.
Pada saat itu membuktikan walaupun banyak resiko yang dihadapi oleh masyarakat, namun masyarakat dengan tulus dan ikhlas serta dengan sikap juang yang tinggi selalu dekat dan memberikan bantuan kepada Polisi baik berupa makanan maupun tempat perlindungan. Hal tersebut membuktikan bahwa sejak perang kemerdekaan Republik Indonesia, POLRI selalu manunggal dengan rakyat.
Sebagai rasa terimakasih Kepolisian kepada masyarakat maka setelah Agresi Belanda II berakhir beberapa pimpinan POLRI dan Sri Sultan Hamengku Buwana IX mengunjungi Dusun Kwayuhan, Sendangmulyo, Minggir, Sleman dan sekitarnya. Kunjungan beliau dimaksudkan untuk meninjau kembali rumah-rumah dan tempat yang dahulu digunakan sebagai markas Kepolisian, berziarah ke makam penduduk yang dulu gugur dalam masa perjuangan, serta beramah tamah dengan masyarakat dusun tersebut yang dulu ikut membantu perjuangan.
Dari beberapa kali kunjungan yang dilakukan oleh POLRI maupun pemuda diperolah satu kesatuan bahasa untuk mengenang perjuangan masyarakat Dusun Kwayuhan dan sekitarnya, maka POLRI mendirikan monument yang diberi nama Monumen WIRANARA dan mendirikan gedung keterampilan SD di Dusun Kwayuhan. Sedangkan untuk Desa Sendangagung dibangun gedung serbaguna yang dilengkapi dengan meja dan kursi, serta seperangkat wayang kulit dan gamelan.
Pembangunan monumen dan gedung tersebut diresmikan oleh Kapolri Letnan Jenderal Polisi Anton Sudjarwo pada tanggal 9 Juli 1983 dalam rangkaian kegiatan HUT Bhayangkara ke 37 tahun 1983.
PERISTIWA AGRESI BELANDA II
Pada tanggal 19 Desember 1948 Kota Yogyakarta dihujan bom bom dan serangan senjata oleh Belanda yang ingin menjajah kembali Bangsa Indonesia.
Serangan Belanda tersebut dilawan secara serentak oleh ABRI bersama rakyat Yogyakarta dan sekitarnya. Karena dalam pertempuran senjata Belanda lebih lengkap, maka POLRI mengatur strategi dengan menggeser pasukannya ke Desa Jiring, Godean, Sleman kemudian ke Desa Bero. Di desa tersebut POLRI bertemu dengan seseorang bernama Wonodimejo, kemudian diantar ke rumah bapak Hadiwiyono Kadus kring 13 Sendangmulyo. Setelah itu menemui bapak Hardjosubroto yaitu mantan Kades Sendangmulyo yang selanjutnya rumah tersebut digunakan sebagai Markas Besar Kepolisian.
Adapun yang bermarkas dirumah bapak Hardjosubroto tersebut antara lain: Bapak Djen Mohammad Suryo Pranoto, Sebagyo, Suyono, Sutarto, Kuswadi, Sunaryo. Sedangkan anggota lain bertempat dirumah rumah sebagai berikut :
- Rumah Bapak Hadiwiyono ditempati oleh Bapak Hasan ( rumah tersebut pada saat itu digunakan sebagai Kantor Kecamatan Minggir dari Camat Bapak Utaryo ).
- Rumah Bapak Karyo Setiko ditempati oleh Bapak Joyosukarto, Siramo, Anhar, Sulemandan Abdul Majid.
- Rumah Bapak Partojemono ditempati oleh Bapak Salip, Sukiman, Yazman.
- Rumah Bapak Martopawiro ditempati oleh Bapak Slamet dan Burhan.
- Rumah Bapak Kartosentono ditempati oleh Bapak Seno dan Utaryo.
- Rumah Bapak Sastrodimejo sebagai Kadus ditempati oleh Sukarno Joyonegoro.
- Rumah Bapak Pasemito ditempati oleh Sastrodanukusumo dan Subarkah.
- Rumah Bapak Kromoharjo ditempati oleh Bapak Maripin.
Selama POLRI bermarkas di Desa Sendangmulyo yang dipimpin oleh Bapak Djen Mohammad Suryopranoto melaksanakan kegiatan kegiatan sebagai berikut :
- Mengadakan patroli bersama dengan masyarakat setempat.
- Memerintahkan kepada Kadus Kwayuhan agar penjagaan Dusun Kwayuhan sebelah selatan menjadi satu dengan penjagaan utara di depan markas.
- Mengajak kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan apabila ada orang yang dicurigai masuk ke Dusun Kwayuhan supaya segera lapor kepada yang berwajib.
Pada saat Polisi bermarkas bertempat tersebut masyarakat ikut membantu POLRI dengan mencarikan lauk pauk, beras, mengangkat alat alat persenjataan dari tempat lain ke markas beserta mengangkat buku buku dan dokumen penting yang disimpan di rumah Bapak Hadiyuwono, sedangkan para wanita memasakkan makanan untuk Polisi di rumah Bapak Harjosubroto dan Hadiwiyono.
Dengan bermarkasnya POLRI di Dusun Kwayuhan maka dusun tersebut merupakan sasaran penjajahan Belanda, sehingga banyak masyarakat Kwayuhan luka dan bahkan gugur dalam serangan yang dimaksud. Adanya masyarakat yang gugur dalam serangan tersebut akhirnya Bapak Tut Suharsono yang jenazahnya dimakamkan di Dusun Kwayuhan, begitu juga anaknya Bapak Sosrodanukusumo ikut gugur dalam peperangan. Dalam peristiwa tersebut masyarakat secara beranting membawa pasien pasien ke PMI desa Plumbon, Sendangsari, Minggir, Sleman untuk mendapatkan pertolongan. Dan pada saat Bapak Sukarno Joyonegoro menderita sakit, maka 4 (empat) orang warga masyarakat mengantar ke RS Bethesda Yogyakarta dengan melalui jalan yang aman.
Setelah pertempuran reda, Kepolisian sempat membentuk siswa siswa polisi baru sebanyak 2 ( dua ) kali yakni :
Angkatan I dilaksanakan di Dusun Kwayuhan Sendangmulyo Minggir Sleman sebanyak 120 orang.
Angatan II dilaksanakan di Dusun Nanggulan Sendangagung Minggir Sleman sebanyak 300 orang.
Pada saat pendidikan siswa Polisi Litting I selesai, Bapak Djen Mohammad Suryopranoto beserta beberapa orang stafnya pindah dari Desa Sendangmulyo ke Sendangagung.
Pada tanggal 29 Juni 1949 Belanda meninggalkan Kota Yogyakarta dan seluruh anggota Kepolisian kembali ke Yogyakarta.
Dengan berakhirnya Agresi Belanda II tersebut maka tercatat nama nama warga masyarakat yang ikut Polisi pada saat bermarkas di Dusun Kwayuhan tersebut antara lain :
Bapak Hadiyono Bapak Wonodimejo Bapak Tejowardoyo
Bapak Pringgosuyitno Bapak Suparno Bapak Partojumeno
Bapak Kariyosetiko Bapak Kartosemito Bapak Sasmito
Bapak Sowikromo Bapak Towiryo Bapak Sodinomo
Bapak Wongsosemito Bapak Dipolesono Bapak Tomojalman
Ny. Harjosubroto Ny. Hadiwiyono Ny. Potoruno
Ny. Iman Suripto Bapak Bejosumarto Bapak Digdoperwito
Bapak Potoruno Bapak Murmoriuk Bapak Kertoponjo
Bapak Imam Suripno Bapak Pawironawi Bapak Sukiman
Bapak Sukongadiran Bapak Tonawi Bapak Sarendi
Bapak Cipto Sudarmo Bapak Kerdimulyo Bapak R. Harjowardoyo
Bapak Kromoharjo Bapak Jowiyono Bapak Niti Tuginem
Bapak Kasan Munawi Bapak Nentoutomo Bapak Joyopawiro
Bapak Surowagiman Bapak Goyuh Bapak Sastridimejo
Bapak Surowejo
KEGIATAN KEGIATAN DI DUSUN KWAYUHAN SESUDAH AGRESI BELANDA II DI YOGYAKARTA
- Pada tahun 1955 yang berkunjung di Dusun Kwayuhan yaitu :
- Kapolri Bapak Sukamto dan rombongan
- Bapak Sri Sultan Hamengku Buwana IX
Dengan tujuan :
- Meninjau lokasi dan rumah rumah yang ditempati POLRI pada masa Agresi Belanda II.
- Meninjau dan tabor bunga di makam Pahlawan Bapak Tut Suharsono.
- Beramah tamah dengan anggota masyarakat.
- Pada tahun 1956 yang berkunjung yaitu :
- Bapak Djen Mohammad Suryopranoto
- Bapak Subarkah
- Bapak Sosro Danukusumo
- Bapak Subagyo
- Bapak Suyono
Dengan tujuan :
- Meninjau lokasi dan rumah rumah yang ditempati POLRI pada masa Agresi Belanda II.
- Anjangsana dan beramah tamah dengan masyarakat setempat.
- Pada Bulan Juli 1963 yang berkunjung yaitu :
- Kapolda Jateng Bapak Sukahar
- Bapak Ismono Ismaun
- Bupati Sleman Bapak Murdodiningrat
Dalam HUT POLRI, kunjungan tersebut bermaksud untuk peletakan batu pertama Gedung Sekolah Dasar yang diberinama Gedung Sekolah Dasar Gotong Royong Tut Suharsono. Nama tersebut untuk mengenang nama pahlawan Polri yang dimakamkan di Dusun Kwayuhan selain itu untuk mengenang atas jasa masyarakat Kwayuhan dalam rangka membantu perjuangan khusunya terhadap POLRI.
Adapun Gedung Sekolah Dasar didirikan di atas sebidang tanah milik Pemerintah Kalurahan Sendangmulyo yang dalam pembangunannya dikerjakan secara gotong royong.
Kwayuhan, 16 Maret 1987
Penyusun :
- Bejo Sumarto
- Ny. Hadiwiyono
- Cipto Sudarmo
- Digdoperwito
- Bagyo